Loading...
Loading...

Jumat, 15 Februari 2013

kurikulum sepak bola

Kurikulum sepakblola

Timo Scheunemann Kurikulum Sepak Bola Indonesia Edisi 844 | 25 Mei 2012 | Cetak Artikel Ini Salam Perspektif Baru, Beberapa tahun terakhir, Sekolah Sepak Bola (SSB) banyak berdiri di Indonesia. Mulai dari SSB yang profesional hingga SSB yang hanya untuk memberikan pelatihan kepada anak-anak sekolah dasar. Keberadaan SSB diharapkan mampu mencetak para atlet sepak bola yang berkualitas, namun masih banyak yang harus dilakukan untuk mendapatkan calon pemain maupun pemain yang berkualitas. Salah satunya adalah kurikulum untuk sepak bola. Tamu kita kali ini adalah Timo Scheunemann, mantan pelatih Persema Malang. Menurut Timo, kurikulum dibuat supaya pelatih-pelatih dan pengurus klub terutama SSB di seluruh Indonesia bisa mendapatkan pemahaman tentang apa yang harus dilatih dan apa yang jangan dilatih bergantung pada usia anak didiknya. Dalam hal ini yang terpenting pelatih sebagai pembina untuk tetap mendidik pemain mengutamakan sekolah. Jangan sampai pemain dibohongi. Bahkan oleh dirinya sendiri bahwa dia pasti akan menjadi pemain sepak bola terkenal. 99,9% di dunia bermain sepak bola tanpa kontrak, maksudnya tidak bermain secara profesional. Jadi pendidikan harus tetap diutamakan. Timo mengatakan, saat ini sudah bukan zamannya lagi kita menciptakan pemain bola yang hanya bisa bola. Kita harus renaissance man, yaitu orang yang bisa banyak hal. Jadi, bukan hanya bola. Sudah bukan zamannya, termasuk SSB. Sepuluh tahun lalu adalah zamannya SSB berdiri di mana-mana. Sekarang bukan zamannya itu lagi. Sekarang zamannya SSB menjadi quality SSB. Karena itu saya mengharapkan kurikulum ini bisa membantu, termasuk juga pemahaman mentalnya di situ. Jangan sampai pelatih, orang tua, dan lain-lain menomorduakan sekolah, atau tidak mengerti pentingnya arti sekolah untuk perkembangan pemain. Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Wimar Witoelar sebagai pewawancara dengan narasumber Timo Scheunemann. Timo Scheunemann yang akrab dipanggil Coach Timo sangat unik sebab dia lahir di Kediri tapi orang tuanya adalah orang Jerman. Sejak lahir dia memang menetap di sini walaupun sering pergi ke Jerman bahkan sekolah bertahun-tahun di Amerika Serikat sambil bermain di salah satu klub di sana. Dia juga pernah di Jerman dan berbagai tempat, tapi akhirnya sekarang berbasis di Malang. Dia pernah menjadi pelatih Persema, dan sekarang ada proyek baru sepak bola yang diadakan oleh PSSI. Apa kegiatan Anda sekarang? Kita ada suatu pekerjaan sangat penting yang baru diluncurkan, yaitu kurikulum sepak bola Indonesia. Kurikulum ini sudah lama ditunggu-tunggu untuk membuat proses latihan sepak bola di Indonesia bisa distandarkan. Jadi, supaya pelatih-pelatih dan pengurus klub terutama sekolah sepak bola (SSB) di seluruh Indonesia bisa mendapatkan pemahaman tentang yang harus dilatih dan yang jangan dilatih, yaitu bergantung pada usia anak didiknya. Misalnya, apa yang harus dilatih dan jangan dilatih untuk anak usia tujuh tahun. Di kurikulum dijelaskan bahwa untuk anak umur 7 tahun jangan dilatih heading, jangan dilatih fisik tanpa bola, power, dan lain-lain. Alasannya, secara logika anak kecil laki-laki belum mempunyai testosteron. Jadi sebelum ada testosteron, maka tidak bisa dilatih power dan tidak bisa dilatih endurance tanpa bola. Berapa usia seorang anak laki-laki bisa dimasukkan ke SSB? Sedini mungkin. Namun di kurikulum ini dimulai dengan anak umur lima tahun. Jadi, ada cara melatih anak umur 5 sampai 8 tahun, kemudian ada cara melatih anak umur 9 - 12 tahun. Masing-masing dengan cara melatih yang disesuaikan, dalam arti program latihannya seperti apa. Lebih spesifik lagi, ada pengkategorian seperti untuk umur 5 tahun, 6 tahun, 7 tahun akan dilatih apa saja dalam satu tahun. Itu yang ada di kurikulum ini. Jadi, betul-betul lengkap. Berapa batasan usia yang ada di kurikulum ini? Judulnya adalah kurikulum dan pedoman dasar sepak bola Indonesia, jadi diperuntukkan untuk usia dini. Usia dini yaitu 5 - 12 tahun yang dibagi dua. Untuk umur 5 - 8 jangan terlalu banyak latihannya, hanya yang senang-senang saja. Misalnya, bagaimana cara agar dia hook on football (berhubungan dengan sepak bola). Bagaimana cara dia mulai mengerti tubuhnya. Bola menggelinding ke mana mulai diterima oleh otaknya. Latihan tidak boleh melulu sepak bola. Contohnya, lempar – tangkap bola itu sudah latihan. Jadi dia terbiasa dengan bola. Jadi lebih banyak ke game, sesuatu yang fun. Sedangkan untuk Usia 9 - 12 tahun mulai digenjot soal teknik. Kemudian kita masuk ke usia muda, yaitu usia 12 tahun ke atas. Usia 13 - 20 tahun merupakan usia muda. Mengapa hanya sampai usia 20 tahun? Usia 20 tahun ke atas adalah senior. Jadi, usia dini, usia muda, dan usia senior ada dalam kurikulum ini. Jadi, bisa dikatakan diperuntukkan untuk semua kelompok umur. Namun itu bukan hanya untuk pelatih, pemain, pengurus SSB, dan klub, walaupun utamanya atau intinya untuk mereka. Buku kurikulum ini juga untuk pengamat sepak bola pada umumnya. Contohnya, Pak Wimar membaca kurikulum ini maka nanti saat menonton Arsenal dapat lebih mengerti cara bermain Arsenal. Saat wawancara ini saya memegang daftar isi dari buku yang baru diluncurkan, yang saya pertama kali menemukannya di internet karena memang diberitahu lewat twitter, dan uniknya buku ini bisa di download secara gratis. Selain isinya sangat padat, buku ini enak dibaca, diagramnya bagus dan jelas. Saya sangat recommended walaupun saya belum baca habis. Ya, tapi jangan mengatakan ini buku saya. Saya penyusun dan juga menulis karena dibutuhkan orang yang bisa bahasa Inggris dan Indonesia dan mengetahui bahasa yang dipakai oleh pelatih-pelatih di lapangan. Jadi tidak ada permasalahan bahasa pada saat diterjemahkan. Kemudian tentu saja perlu memiliki pengetahuan sepak bola, tapi ilmunya adalah ilmu universal. Tadi Anda mengatakan diterjemahkan. Darimana sumbernya? Sumber kita dari FIFA dan AFC. Saya juga melihat kurikulum dari Australia, tapi utamanya dari Amerika Serikat (AS). Jadi, AS mempunyai kurikulum berjumlah 104 halaman, sedangkan kurikulum kita berjumlah 278 halaman. Kurikulum AS dibuat dalam empat tahun, sedangkan kurikulum kita dibuat dalam enam bulan. Jadi, materi kurikulum yang diambil dari AS ada sekitar 45 halaman. Kemudian diambil dari FIFA, dan juga UEFA karena saya mengambil lisensi C untuk pelatih di AS, sedangka lisensi B dan A di Jerman. Lalu, mengapa bisa selesai secepat ini? Karena saya sudah merangkum lisensi C, B, dan A saya dalam tiga buku saya yang terdahulu. Saya mengambil sebagian materi dari buku-buku tersebut, kemudian disusun dengan narasumber lain, lalu menambahkan hal-hal yang diperlukan karena ini bersifat kurikulum sehingga bisa selesai dalam waktu singkat, yaitu enam bulan. Intinya, ini bukan ilmu saya tapi ilmu sepak bola modern yang universal. Jadi, tidak perlu dipermasalahkan apakah ini dari Amerika Latin atau Eropa karena sekarang sudah standar. Ilmu sepak bola Eropa merupakan sepak bola modern dan itu sudah standar. Kalau dibilang sepak bola universal, apakah dari segi sepak bola profesional yang kita lihat di TV ada perbedaan antara langgam atau style sepak bola Italia, Inggris, Jerman, Spanyol, atau Indonesia? Ya, pasti ada style yang berbeda. Beberapa negara lebih suka formasi tertentu, tapi ilmu sepak bola modernnya sebenarnya sama. Hanya yang menerapkannya individu. Individu di setiap negara berbeda. Saya selalu bicara bahwa kalau mau belajar mental maka kita belajar ke Jerman. Kalau mau belajar fisik maka kita belajar ke Inggris. Kalau mau belajar teknik maka kita belajar ke Spanyol. Kalau mau belajar taktik maka kita belajar ke Italia. Jadi, negara-negara mempunyai spesifikasi tertentu. Di kurikulum ini kita juga menyesuaikan dengan sepak bola Indonesia. Ciri khas sepak bola Indonesia adalah permainan pendek, yaitu operan pendek dari belakang ke depan. Itu yang sudah ditinggalkan akhir-akhir ini karena banyak bola-bola panjang ke depan. Apakah kalau dengan operan pendek-pendek adalah sepak bola modern? Dimodernkan lagi oleh Barcelona. Itu sudah modern sejak 1970-an yaitu disebut Total Football. Namun diperlukan teknik yang betul-betul matang dan diperlukan wawasan taktik. Itu karena mereka bermain operan pendek-pendek, dan digabungkan dengan perpindahan tempat tentunya, sehingga ada pengertian bola ini harus ke mana. Javier Rodriguez, pesepak bola Barcelona, mengatakan permainan bola yang tanpa bola kadang-kadang lebih penting dari bolanya, betulkah? Ada penelitian di Swedia baru-baru ini bahwa dari 93 menit rata-rata pertandingan sepak bola, 90 menit plus 3 menit tambahan, setiap pemain hanya menyentuh bola selama dua menit. Jadi, sisanya mereka berlari tanpa bola. Karena itu VO2 Max sangat penting artinya. Apa itu VO2 Max? VO2 Max adalah kemampuan paru-paru untuk menampung oksigen (O2) sehingga berpengaruh pada mobilitas orang tersebut. Nah, VO2 Max 50 dan VO2 Max 55 atau berbeda lima poin saja sangat berpengaruh. Perbedaan tersebut dijelaskan juga di kurikulum supaya orang mengerti kenapa itu penting. Latihan yang intensitasnya tinggi dan terjadwal rapi begitu penting karena berpengaruh pada VO2 Max, selain itu gizi dan istirahat tentu pentingnya. Perbedaan VO2 Max sebanyak lima berarti spin seseorang sudah 100% lebih banyak daripada VO2 Max 50. Jika orang dengan VO2 Max 50 melakukan spin 20 kali dalam pertandingan, maka VO2 Max 55 sudah 40 kali. Pakai logika saja, kalau saya spin 40 kali dan Anda 20 kali berarti saya akan lebih terlibat dalam pertandingan. Keterlibatan di pertandingan naik sekitar 24% dan daya jelajah naik 20%. Jadi, kalau Anda lari 10 Km lari dalam satu pertandingan, maka saya lari 12 Km. Itu baru satu pemain. Bayangkan kalau semua pemain. Kalau kita tidak memperbaiki VO2 Max dengan intensitas latihan yang bagus, penjadwalan latihan yang bagus, pengertian akan gizi yang bagus, maka kita akan selamanya kalah melawan tim-tim luar. Berbicara mengenai kalah melawan tim luar, Timo pernah mengatakan bahwa Indonesia bisa saja masuk Piala Dunia asal ada pentahapan yang baik. Apa yang harus ditingkatkan sekarang karena kalau awam melihat sepak bola Indonesia di televisi (TV), misalnya Indonesia Premier League (IPL), kadang-kadang tidak terlalu beda dengan di luar negeri tapi sebenarnya berbeda. Dimana perbedaannya? Perbedaan yang utama adalah kualitas umpan, sehingga kalau kita melihat permainan berkembang tidak cepat kehilangan bola. Itu perbedaannya. Kemudian yang kedua dari kemampuan teknik. Apakah itu baik umpan panjang (long pass) maupun umpan pendek (short pass)? Pendek. Itu supaya bola tidak cepat hilang maka itu datang dari kemampuan teknik. Jadi harus bisa kontrol bola, bisa umpan bola dengan baik, umpan bola secara mendatar. Kemudian yang kedua dari kemampuan taktis dalam arti teman saya ada di mana dan lawan saya ada di mana. Kapan main pendek, kapan main jauh. Ketiga, tergantung pada pergerakan dia tanpa bola. Anda mengumpan saya maka Anda bergerak lagi, sehingga Anda terbuka lagi dan bola tidak cepat hilang. Itu yang membuat penonton jadi lebih senang melihatnya. Kemudian kecepatan permainan. Itu yang membedakan. Kalau kita melihat Arsenal dan Barcelona, kecepatan permainan mereka luar biasa. Tim nasional (Timnas) Jerman nanti di Piala Eropa, saya rasa akan mempunyai kans besar. Tadi saya mendengar juga orang harus pintar, harus inteligent dalam bermain sepak bola. Bagaimana cara mengajarkan football intelligence? Ya, kalau sekarang ada life kinetik yang dilakukan oleh BVB Dortmund. Saya senang sekali dengan pelatihnya karena dia mencoba hal-hal yang baru seperti itu. Tapi terus terang tanpa menyombongkan diri, di akademi Malang Football Club (MFC) kita sudah melakukannya sejak lima tahun lalu. Kinetik artinya kita melatih teknik dan otak secara bersamaan. Contohnya, Anda juggling bola tiga kali, kemudian memberikan ke saya dengan menyebutkan angka misalnya empat, maka saya harus juggling empat kali. Pada saat saya menyentuh bola ke empat maka saya mengembalikan bola ke Anda dengan menyebutkan angka misalnya dua. Jadi kita harus fokus terus, betulkah? Harus. Contoh, tingkatan berikutnya saya mengatakan dua tambah dua, terus Anda mengatakan tiga dikurangi satu. Contoh lain, kalau kita bermain possession, biasanya bebas setuhan atau dibatasi menjadi dua sentuhan. Namun yang saya buat adalah menjadi 1 - 2 sentuhan. Jadi Anda membuat satu sentuhan, saya boleh dua sentuhan. Kalau setelah saya dua sentuhan, pemain lain hanya boleh satu sentuhan. Jadi otak sambil bermain. Tidak bisa secara teknis hanya kaki saja yang dilatih, tapi otak juga. Banyak sekali cara-cara seperti itu, itu life kinetik. Intinya, hal itu datang dari pelatih sebagai pembina agar pemain mengutamakan sekolah. Jangan sampai pemain dibohongi. Bahkan oleh dirinya sendiri bahwa dia pasti akan menjadi pemain sepak bola terkenal. 99,9% di dunia bermain sepak bola tanpa kontrak, maksudnya tidak bermain secara profesional. Jadi pendidikan harus tetap diutamakan. Istilahnya student-athlete. Student First, Athlete Second. Di Wesley International School di Malang, saya mengajar sejarah, filsafat dan olah raga sudah selama 11 tahun, kalau ada pemain yang nilainya di bawah C seperti C minus maka sudah tidak boleh ikut tim basket atau tim bola. Apa saja nilai mata pelajaran yang tidak boleh di bawah C? Semua, dan juga secara akademik. Sewaktu saya di Amerika juga sama. Harus memiliki GPA minimal 2,5. Kalau di bawah 2,5 maka sudah tidak boleh ikut lagi tim olah raga. Jadi kalau pemain profesional yang kelihatannya bodoh sebetulnya tidak bodoh seperti Balotelli pintar juga, betulkah? Kita jangan menilai orang berdasarkan exception (pengecualian). Exception itu banyak. Banyak pemain bola yang kurang pintar. Tapi intinya, setelah dia bermain bola, dia juga membutuhkan intelejensinya. Misalnya, bagaimana dia mengolah uangnya. Bagaimana dia mengolah agar dia dikenal orang tanpa dia menjadi sombong. Itu semua harus dididik di level akademi. Apakah ada juga pelajaran seperti budi pekerti, Public Relations (PR), dan sebagainya? Pasti. Wah, mungkin saya bisa ikut mengajar di situ. Sudah bukan zamannya lagi kita menciptakan pemain bola yang hanya bisa bola. Kita harus renaissance man. Renaissance man adalah orang yang bisa banyak hal. Jadi, bukan hanya bola. Sudah bukan zamannya, termasuk SSB. Sepuluh tahun lalu adalah zamannya SSB berdiri di mana-mana. Sekarang bukan zamannya itu lagi. Sekarang zamannya SSB menjadi quality SSB. Karena itu saya mengharapkan kurikulum ini bisa membantu, termasuk juga pemahaman mentalnya di situ. Jangan sampai pelatih, orang tua, dan lain-lain menomorduakan sekolah, atau tidak mengerti pentingnya arti sekolah untuk perkembangan pemain. Dan dia juga harus terlibat dalam current affairs. Iya, karena sepak bola adalah smart game. Saya selalu mengatakan sepak bola itu perpaduan antara seniman - seperti pelukis, atau seorang filsuf, atau pokoknya seniman yang secara intelektual atau secara karya nyata - dan seorang tukang batu. Jadi kerja keras dan senimannya. Dibutuhkan kedua-duanya. Kita harus cepat berpikir. Terima bola dan langsung sudah mengetahui bola harus ke mana.http://www.perspektifbaru.com/wawancara/844http://opakecil.blogspot.com/2013/02/kurikulum-sepakblola.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar